Selasa, 23 April 2013

Jakarta

Jakarta… kota besar di Indonesia, bisa dibilang seluruh rakyat Indonesia bercita-cita bisa mengunjunginya. Jakarta yang terus dieluh-eluhkan oleh rakyat, yang katanya tempat berdiamnya pemimpin negara dan Dewan Perwakilan Rakyat, serta tempat pacara pencari nafkah.

Bicara soal Jakarta tidak akan sempurna jika kita tidak membahas masalah kehidupan kotanya. Jakarta ini bahkalan indah jika dilihat pada malam hari. Hidup di Jakarta nggak semudah apa yang dipikiran kita… hidup di Jakarta harus punya prinsip kuat, dan bahkan orang yang berprinsip kuat saya sarankan untuk mencoba hidup di Jakarta dengan tanpa adanya harta atau bisa dibilang hidup berkecukupan.

Walaupun orang yang berprinsip pasti akan tergiur ketika perut sudah minta untuk diisi… orang dimana yang relah mati kelaparan ditengah kota, orang dimana yang mau kehausan ditengah keramaian, orang dimana yang relah hidup tanpa pergaulan. 3 aspek inilah yang bisa menguji sampai dimana kekokohan prinsip yang kita pegang.
Saya sudah hampir setahun di Jakarta, hidup sebatang kara bagaikan pohon ditengah samudra… terobang-ambing dibawah ombak, tak bisa ditebak arahnya akan kemana… apakah akan membusuk ditengah lautan ataukan akan terdampar kembali didaratan, tapi jika daratannya tidak dikenal buat apa harus terdampar.? Inilah konsekuensi yang harus dihadapi oleh banyak orang termasuk saya sendiri.

3 aspek yang saya sebutkan diatas akan terus mencoba merobohkan pohon prinsip yang sudah kita pupuk dari sebelum kita berangkat ke Jakarta, dan kebanyakan cobaan itu akan datang jika uang saku kita habis sebelum bulan berakhir… cobaan itu bisanya berupah ajakan dari teman-teman, lingkungan ataupun perut yang sudah merontah-rontah pengen makan… saya pernah diajak teman untuk mencoba menjual obat-obatan, saya pernah diajak teman untuk membantu kakaknya menjual wanita umur belasan tahun atau sekedar menemaninya sampai dihotel dan menunggunya sampai selesai melayani si hidung belang.

Orang sederhana hidup di Jakarta… bisa hidup sih, tapi saya berani taruhan nyawa… jika kalian bisa bertahan sejauh mana, tanpa berfikir ajakan teman.

Saya punya cerita dan cerita ini beneran fakta yang saya jumpai dilapangan :
Teman seorang wanita yang terlambat akan kiriman uang bulanannya sempai 2 minggu, dan wanita ini katakan saja winda telah terbelit hutang pada teman kuliahnya yang dia pinjam 2 minggu lalu untuk membayar biaya kontrakan. Sampai pada suatu hari si temannya menagi hutang pada winda, dan winda pada saat itu nggak punya uang untuk makan saja susah… karena terdesak akan biaya hidup, akhirnya dia menjual keperawanannya hanya dengan harga 5 jutah rupiah. Cerita ini tidak mengadah-ngada winda ini adalah orang Manado, yang mencoba kuliah di univ.Indonesia… karena berawal dari jual diri akhirnya dia merasa nikmat dan gampang mencari uang tanpa mengharapkan lagi kiriman uang dari orang tuanya dikampung halaman, dan sekarang dia juga menjadi wanita simpanan Om-om.

Inilah sedikit cerita dari 1001 cerita yang saya dapatkan dikota Jakarta. Buat yang punya prinsip kuat, bisa mencobanya dikota Jakarta… tapi ingat kalau kalian anak orang kaya, cobalah untuk menjadi sederhana di Jakarta, niscaya kalian akan merasakan bagaimana susahnya hidup di Jakarta.

0 komentar :